Rabu, 19 Oktober 2011

Grandpa

1 minggu sebelum puasa Ramadhan tahun 2011 dimulai datok gw masuk rumah sakit. Bagian lehernya sakit dan seperti ada benjolan. Setelah di observasi, yap hasilnya sungguh mengagetkan keluarga besar kami, datok terkena Kanker Nasofaring atau yang biasa dikenal kanker pangkal lidah dan itu sudah mencapai stadium 3.
Mama shock dan ga bisa tahan rasa tangisnya, kami langsung cari tiket buat mama berangkat ke Padang. Setelah mama sampai, dan dirembukan datok di bawa ke Jakarta untuk pengobatan yang lebih baik dan setidaknya semua anak dan cucunya ada di Jakarta, Tangerang dan Depok sehingga lebih bisa memberikan kekuatan buat datok.
Hari pertama puasa, datok di bawa ke RSCM Kencana untuk di observasi lebih lanjut. Hebatnya,ketika sedang sakitpun datuk masih berpuasa dan hari itu puasanya penuh. Aku, Bang Boy, Mama, dan Nenek yang standby di RS. Sayangnya hari ke2 puasa datok g bisa puasa karena pengobatan yang dilakukan. Diputuskan untuk datok tidak usah berpuasa selama 1 bulan. Observasi hanya berjalan 2 hari. Hasil observasi mengahruskan datok untuk dilakukan radiasi dan kemoterapi. 
Hasil keputusan keluarga tidak mengijinkan datok untuk kemoterapi karena usianya yang sudah lanjut. Akhirnya keluarga memutuskan untuk pengobatan herbal. Pengobatan pertama melalui pengobatan China, namun setelah 1 bulan berlalu ternyata tidak ada perkembangannya. Akhirnya, pindah ke pengobatan lain yang juga alternatif di daerah Kalibata. Namun, rasa sakit yang datok rasakan justru semakin menjadi.
Yah, pengobatan sudah dilakukan semaksimal mungkin sama anak-anak datok. Sekarang, datok dirawat di RSCM Kencana lagi, namun dengan kondisi yang berbeda. Kali ini kondisinya membuat kami sekeluarga teramat sedih dan kasihan melihatnya. Tapi kami harus lebih kuat dari datok yang sudah sangat kuat melawan rasa sakitnya. Obat penahan rasa sakit yang diberikan dokter sudah ga mempan lagi untuk menahan rasa sakit datok. Kami sekeluarga hanya bisa memohon agar datok diberikan kekuatan selalu.

Gw sedang kuliah di Semarang, awal September gw mulai stay di Semarang. Sedih rasanya ga bisa liat dan jenguk datok. Gw tau keberadaan gw disana ga akan merubah apa2. Observasi awal, gw menemani datok. Buat obatnya gw yang ditugaskan untuk kasih ke datok. Terus terang, saat ini ingin rasanya pulang ke Jakarta buat liat datok yang gw cuma bisa liat di foto dari kiriman bbm spupu. Gw cuma bisa denger cerita seberapa menurunnya kesehatan datok. Sedih bangetttt dengernya.
Keinginan gw pulang selain emang karena gw uda homesick, gw juga pengen liat datok. Gw emang ga bisa bantu apa-apa. Gw cuma pengen beri kekuatan buat datok yang sekarang sepertinya sudah sulit untuk berkomunikasi sama sekitar. 1 hal lagi, gw pengen banget beri kekuatan sama Mama. Mama gw yang hebat, bahkan bisa gw katakan lebih hebat dari super hero. Mama yang sabar dan ga kenal lelah dalam menjaga datok. Mama yang mencintai orang tua dan keluarganya. Bener2 ga kebayang ketika mama melihat datok merintih kesakitan dan mulai ngaco perkataannya, mama hanya bisa menangis dan terus berdzikir. Ga bisa dibayangkan,rasanya bener2 ingin kesana dan memeluk mama, memberikan kekuatan dan pengertian.
Namun, gw blom bisa pulang. Tugas gw disini juga lagi banyak2nya dan 2 minggu lagi uda harus UTS. Rasanya ingin cepet2 UTS biar bisa pulang walau cuma sebentar. Spupu gw ud bilang sekarang saatnya buat ikhlasin datok jika yang terburuk yang terjadi. Karena emang hanya kepada Allah lah kita kembali. Gw mencoba untuk ikhlas, walau di sisi lain gw mau gw masih bisa ketemu nanti setelah gw UTS. Tapi, gw jg ga boleh egois. 2 minggu mungkin bentar buat orang sehat kaya gw, tapi buat datok yang setiap harinya selalu menahan rasa sakit pasti itu lama. Gw cuma bisa berdoa supaya rasa sakit datok menurun dan bisa bertahan sampai gw bisa pulang dan bertemu. Tapi, gw cuma bisa memohon. Apapun hasilnya, baik atau buruk, gw harus bisa ihklas.

Gw ga disana, tapi gw terus berdoa buat yang disana.
Sesungguhnya kehebatan doa itu maha dahsyatnya...